“Ketika rasa sakit itu mengunjungiku lagi, aku hanya menunduk lalu menangis. Dia tidak bosan-bosan menengokku. Sudah ratusan kali dia datang, bahkan sudah triliyunan tetes airmataku yang jatuh. Coba tanyakan padanya, mengapa harus aku? aku sudah tau rasanya sesak didada karna menahannya, aku sudah paham rasanya lemas disekujur tubuh ketika dia datang, aku sudah mengerti saat tanganku dingin dan gemetar karna takut menghadapinya, akupun sudah hafal rasanya kehilangan keseimbangan tubuh yang membuatku terjatuh karna tidak sanggup mengatasinya, bahkan aku selalu ingat tangisan pilu setiap aku merasakannya, iya, dia: rasa sakit.
Lalu mengapa harus aku yang lagi-lagi kau singgahi? Aku tidak mengerti apakah ini membuatku semakin kuat atau justru membuatku hancur? Tapi yang pasti, aku lelah.”
CinDi, 20th.
0 comments:
Post a Comment