Pernah ada ‘bulan’ ini dulu, indah. aku jatuh cinta, dan di-jatuh cintai oleh orang yang sama. Tapi hari tidak pernah sama, cinta membuatnya berwarna.
Mengenang tatapan indah yang membuatku tersipu, justru mengundang luka. Aku hanya rindu. Mata itu... yang dulu menatapku berbinar-binar mengungkapkan cinta, kini sudah tampil biasa.
Lalu aku ingin kembali ke masa itu, ke kota itu. Kota yang menjadi saksi betapa dua anak Adam saling jatuh cinta. Yang mempertemukan matanya dengan mataku, dan menyatukan hatinya dengan hatiku. Aku ingin mengulang setiap detik berharga ketika aku di-jatuh cintai olehmu. Ketika tatapan itu masih milikku, dan ketika semua hal manis dialamatkan padaku.
Andai waktu bisa kembali, atau keadaan mampu mengulang waktu, aku ingin dijadikan objek dari kamu yang sedang jatuh cinta. Andai itu bisa dibeli, aku akan berusaha mengumpulkan banyak uang untuk membeli perasaanmu agar sama seperti dulu. Aku akan berusaha membeli tatapanmu, agar hangat dan memperhatikanku seperti waktu itu. Aku akan berusaha membeli kata-kata tulusmu agar dapat menarik garis senyum di bibirku. Tapi sayangnya itu hanya ‘andai’, nyatanya keadaan memaksaku melambai pada masa lalu yang indah itu.
Ketika rindu itu menanyakanmu, aku harus jawab apa? Apa yang harus aku katakan padanya tentang kamu? Ia banyak bertanya, sementara jawabanmu hanya satu: “aku tetap sayang kamu”. Perasaanku bersorak riang, tapi logika tak sampai. Bukan hanya kata sayang yang diharapkan, tapi perhatian juga berperan penting untuk menghapus kesepian.
Bertahun-tahun aku memperhatikanmu, bertahun-tahun aku jatuh cinta pada orang yang sama. Berkali-kali. Hingga aku tidak tahu kapan hatiku beristirahat dari rutinitas kerjanya mencintaimu.
Jatuh cinta dengan orang yang sama, di waktu yang lama, dan dengan keadaan berbeda itu sulit. Tapi nyatanya aku bisa! Walaupun aku juga harus berusaha membuatmu kembali jatuh cinta pada orang yang sama pula; aku.
Triliyunan Rindu,
Aku-mu
0 comments:
Post a Comment